Warga mulai bergerak, Pilah Sampah dimulai 10 Kepala Keluarga
Sampah menjadi masalah serius jika tidak tertangani dengan baik. Data Riset Sustainable Waste Indonesia (SWI) tahun 2019 menyebutkan 24% sampah di Indonesia tidak terkelola. Hanya 7% yang didaur ulang dan 69% berakhir di TPA. Studi The Economist Intelligence Unit 1 pada tahun 2016, Indonesia menghasilkan sampah makanan sebanyak 300 kg per orang per tahun. Mengungguli Amerika Serikat yang membuang 277 kg dan hanya kalah dari Saudi Arabia (427 kg/tahun). Data Bapenas 2021 Sampah makanan di Indonesia adalah 115-184 kg per kapita per tahun.
Menurut Data DLH Kota Bima (2024), komposisi sampah Kota Bima didominasi oleh sampah organik, sampah sisa makanan mencapai 34%, sampah daun, rantin batang 22%, plastik 20% kertas karton 7%, sisanya sampah karet, kain, kaca, logam dll. Jika tidak dikelola dengan baik, sampah-sampah ini akan menimbulkan masalah baru, mulai dari pencemaran lingkungan, polusi, berbagai macam penyakit sampai dengan kapasitas TPA yang tidak mampu lagi menampung, sementara jumlah timbulan sampah kita semakin meningkat.
Fakta lainnya adalah tumpukan sampah akan menyebabkan pemanasan global. 1 ton sampah padat menghasilkan 50 kg gas methan (rumah kaca), 8% dari emiisi gas rumah kaca berasal dari sampah makanan.
Pengelolaan sampah yang ramah lingkungan masih menjadi pekerjaan rumah hampir setiap daerah, keinginan daerah juga sering berbanding terbalik dengan ketersediaan anggaran dan sarana prasarana yang dimiliki. Namun jika bersandar pada kurangnya fasilitas dan anggaran yang tersedia, pengelolaan sampah ramah lingkungan tidak akan bisa dimulai sampai kapanpun. Lalu apa yang bisa kita lakukan? mulai dari lingkungan terkecil.
Langkah awal yang dilakukan oleh Pemerintah Kelurahan Nae adalah dengan pendekatan sumber yaitu pemilahan dari skala rumah tangga. Sampah dari rumah tangga harus sudah dipisahkan. Secara garis besar sampah organik dan sampah anorganik. Pembuatan lubang biopori untuk sampah organik baik biopori dengan ukuran kecil maupun ukuran jumbo. Sedangkan sampah anorganik dibentuk bank sampah untuk menampung dan menjual sampah yang masih memiliki nilai ekonomis.
Pemilahan ini akan mulai dilakukan pada 10 Kepala Keluarga yang direncanakan dimulai dilaksanakan akhir pekan ini. Proses pengelolaan sampah ramah lingkungan merupakan perjalanan panjang, karena tidak saja merubah sampah menjadi lebih bernilai guna dan ekonomis tetapi pembuktian perubahan perilaku warga masyarakat untuk jauh lebih baik.
Skema yang dilakukan adalah dengan penjemputan sampah - warga menyiapkan sampah didalam ember - sampah disalin didalam ember petugas - dibawa ke lokasi biopori jumbo atau tempat pengelolaan sampah organik. Mengutip kalimat bijak Perjalanan panjang selalu dimulai dengan satu langkah kecil. 10 kepala keluarga adalah langkah kecil kita memulai wujudkan kelurahan ramah lingkungan.
Bagikan artikel ini: