Himbauan

Kota Bima BISA atau Sekedar Slogan, Saatnya Maggot Jadi Jawaban

13 April 2026
Operator Kelurahan
Dibaca 36 Kali
Kota Bima BISA atau Sekedar Slogan, Saatnya Maggot Jadi Jawaban

Budidaya maggot dari lalat Black Soldier Fly (BSF) belakangan ini semakin sering diperbincangkan, bukan tanpa alasan. Di tengah persoalan sampah organik yang tak kunjung selesai, maggot hadir sebagai solusi yang bukan hanya ramah lingkungan, tetapi juga bernilai ekonomi tinggi. Fenomena ini seharusnya tidak dipandang sekadar tren sesaat, melainkan peluang strategis yang layak dikembangkan secara serius, termasuk di Kota Bima.

Sampah organik merupakan persoalan klasik yang hingga hari ini masih menjadi tantangan besar di banyak daerah. Setiap individu, sadar atau tidak, adalah produsen sampah. Jika rata-rata seseorang menghasilkan sekitar 0,2 kg sampah organik per hari, maka dalam satu minggu jumlahnya mencapai 1,4 kg, dan dalam satu bulan bisa menyentuh sekitar 15 kg per orang. Angka ini akan berlipat ganda jika dikalikan dengan jumlah penduduk. Tanpa pengelolaan yang baik, sampah tersebut berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan, bau tidak sedap, serta meningkatkan beban tempat pembuangan akhir (TPA) yang kian hari semakin penuh.

Di sinilah maggot BSF menawarkan solusi konkret. Larva ini memiliki kemampuan luar biasa dalam mengurai sampah organik dalam waktu singkat. Limbah dapur, sisa sayur, hingga sampah pasar dapat diolah secara efisien, sehingga volume sampah berkurang drastis. Lebih dari itu, hasil penguraiannya tidak berhenti pada pengurangan sampah semata, tetapi juga menghasilkan produk turunan yang bermanfaat, seperti pupuk organik dan biomassa yang dapat dimanfaatkan kembali.

Tidak hanya dari sisi lingkungan, maggot juga memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan. Kandungan proteinnya yang tinggi menjadikannya alternatif pakan ternak yang murah dan berkualitas, terutama untuk ikan, ayam, dan bebek. Dalam kondisi harga pakan yang terus meningkat, kehadiran maggot bisa menjadi solusi untuk menekan biaya produksi peternak. Hal ini tentu membuka peluang usaha baru yang cukup menjanjikan, terutama bagi masyarakat yang ingin memulai usaha dengan modal relatif terjangkau.

Menariknya, di Kota Bima sendiri, budidaya maggot masih tergolong belum banyak digeluti. Baru segelintir orang yang mulai mengambil bagian dalam usaha ini. Kondisi ini justru menunjukkan bahwa peluangnya masih sangat terbuka lebar. Siapa saja dapat terlibat, baik sebagai pembudidaya, pengumpul sampah organik, maupun sebagai bagian dari rantai distribusi produk turunannya. Dengan kata lain, maggot bukan hanya solusi lingkungan, tetapi juga potensi ekonomi lokal yang belum tergarap maksimal.

Namun demikian, pengembangan budidaya maggot tidak bisa hanya bergantung pada inisiatif individu. Peran pemerintah sangat dibutuhkan untuk mendorong ekosistem ini tumbuh. Sudah saatnya pemerintah melirik pengelolaan sampah organik berbasis maggot sebagai salah satu alternatif kebijakan. Melalui dukungan berupa pelatihan, penyediaan fasilitas, hingga integrasi dengan program pengelolaan sampah, maggot dapat menjadi bagian dari solusi sistemik yang berkelanjutan.

Kota Bima memiliki potensi besar untuk menjadi pelopor dalam pengelolaan sampah organik berbasis maggot. Potensi ini tidak harus dimulai dari skala besar, justru akan lebih efektif jika dibangun dari unit terkecil dalam masyarakat, yakni kelurahan. Pendekatan berbasis komunitas memungkinkan keterlibatan langsung warga sekaligus menciptakan rasa memiliki terhadap program yang dijalankan.

Langkah konkret yang dapat dilakukan adalah mengintegrasikan budidaya maggot dari lalat Black Soldier Fly (BSF) ke dalam program lingkungan yang sudah ada, seperti penetapan kampung hijau dan lingkungan bersih. Kebijakan tersebut seharusnya tidak berhenti pada aspek estetika atau kebersihan semata, tetapi juga menyentuh akar persoalan, yakni bagaimana sampah—khususnya sampah organik—dikelola secara berkelanjutan.

Melalui skema ini, setiap kelurahan dapat memiliki titik pengolahan sampah organik berbasis maggot. Warga didorong untuk memilah sampah dari rumah, kemudian sampah organik dikumpulkan dan diolah menjadi pakan maggot. Hasilnya tidak hanya mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA, tetapi juga menghasilkan produk bernilai ekonomi seperti maggot segar atau kering serta pupuk organik dari sisa penguraiannya.

Lebih jauh, konsep kampung hijau berbasis maggot ini juga berpotensi menciptakan ekosistem ekonomi lokal. Warga dapat membentuk kelompok usaha bersama, membuka peluang kerja baru, serta memperkuat ketahanan ekonomi keluarga. Dengan kata lain, program lingkungan tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai peluang produktif.

Namun, keberhasilan langkah ini tentu membutuhkan dukungan kebijakan yang konsisten. Pemerintah daerah perlu hadir sebagai fasilitator, baik dalam bentuk edukasi, penyediaan sarana awal, maupun pendampingan teknis. Selain itu, kolaborasi dengan berbagai pihak seperti komunitas, akademisi, dan pelaku usaha juga menjadi kunci agar program ini dapat berjalan secara berkelanjutan.

Dengan pendekatan yang terintegrasi dan berbasis kelurahan, Kota Bima tidak hanya mampu mengurangi persoalan sampah organik, tetapi juga berpeluang menjadi contoh nyata bagaimana inovasi sederhana seperti maggot BSF dapat menjadi solusi lingkungan sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.

Fazhurrahman,S.STP,.M.AP (Lurah Nae)

#kelurahannae

#lurahnae

 

 

Bagikan artikel ini: